Kabar smeksa — Dari ujung timur Pulau Madura, tepatnya di Kabupaten Sumenep, kami memandang Hari Pendidikan Nasional 2026 bukan sekadar seremoni tahunan. Ini adalah momentum untuk kembali bertanya: sudah sejauh mana pendidikan benar-benar menjadi milik semua?
Tema tahun ini, “Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua”, terasa sangat dekat dengan denyut kehidupan kami di daerah. Di Madura, pendidikan tidak hanya berdiri di ruang kelas, tetapi tumbuh dari kebersamaan, dari keluarga, masyarakat, dunia usaha, hingga nilai-nilai kearifan lokal yang mengakar kuat.
Sebagai Kepala SMKN 1 Sumenep, saya menyaksikan langsung bahwa kualitas pendidikan tidak mungkin dibangun sendirian. Sekolah hanyalah satu simpul kecil dari ekosistem besar.
Ketika orang tua terlibat, ketika dunia industri membuka ruang kolaborasi, ketika pemerintah hadir dengan kebijakan yang berpihak, dan ketika masyarakat ikut menjaga semangat belajar anak-anaknya, di situlah pendidikan bermutu menemukan jalannya.
Di Madura, kami belajar bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti melangkah. Akses geografis, sarana yang belum merata, hingga tantangan ekonomi justru menjadi pemicu lahirnya kreativitas dan gotong royong. Dari ruang praktik sederhana hingga kerja sama dengan mitra industri, kami terus berupaya memastikan bahwa setiap peserta didik memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang.
Partisipasi semesta bukan hanya slogan. Ia adalah gerakan nyata, gerakan untuk saling menguatkan. Gerakan untuk tidak meninggalkan satu pun anak bangsa di belakang.
Hari Pendidikan Nasional 2026 mengingatkan kita, bahwa pendidikan bermutu bukan milik kota besar saja. Ia harus hadir hingga ke pulau-pulau, hingga ke pelosok desa, hingga ke setiap anak yang memiliki mimpi.
Dari Madura, kami percaya:
ketika semua pihak bergerak bersama,
pendidikan tidak hanya mencerdaskan,
tetapi juga memerdekakan
Hal ini juga gayung bersambut dengan program Gubernur Jawa Timur “MAMA MAU NAIK KELAS (Madura Maju, Madura Unggul, Madura Naik Kelas).