Ada satu pelajaran sunyi yang tidak pernah benar-benar diajarkan di bangku pendidikan guru: bahwa suatu hari nanti, kita akan dilupakan.
Ceritanya begini: ada teman pernah merasakan, bahwa Tahun pertama mengajar, ia begitu bersemangat. Namanya diingat, cara mengajarnya ditiru, bahkan candaan kecil di kelas menjadi bahan cerita. Namun, waktu berjalan. Mereka (Siswa) lulus. Mereka melangkah ke dunia yang lebih luas. Dan perlahan, namanya tak lagi disebut.
Awalnya, ada rasa kehilangan. Seolah semua usaha, waktu, dan perhatian yang diberikan menguap begitu saja. Tetapi kemudian ia menyadari satu hal penting: tujuan seorang guru bukan untuk diingat, melainkan untuk mengantarkan anak didik mencapai kebahagiaan hidup.
“Kita bukan tujuan akhir, kita hanya jembatan. Jika murid sudah sampai ke seberang, maka jalan lurus hanyalah do’a dari kita.” Kata Sucipto menceritakan kisah temannya sebagai Pensiunan Guru.
Di situlah makna sejati menjadi guru, siap dilupakan, namun tidak pernah berhenti peduli. Justru ketika murid tak lagi mengingat kita, itu tanda bahwa mereka sudah berjalan mandiri. Mereka sibuk mengejar mimpi, menghadapi hidup, dan menulis kisahnya sendiri. Bukankah itu yang sejak awal kita harapkan?
Meski begitu, ada satu hal yang tidak boleh hilang dari seorang guru: doa. Saat mereka masih duduk di bangku sekolah, kita mendoakan agar mereka memahami pelajaran, memiliki akhlak baik, dan menemukan arah hidup. Dan setelah mereka lulus, doa itu tidak boleh terputus. Kita tetap menyebut mereka dalam harapan, meski tanpa kabar, tanpa pertemuan. Karena sejatinya, hubungan guru dan murid bukan soal seberapa sering diingat, tetapi seberapa tulus kita melepas.
Guru yang hebat bukan yang selalu dikenang, tetapi yang ikhlas ketika tak lagi disebut, namun diam-diam terus mendoakan. Maka, jadilah guru yang siap dilupakan. Bukan karena tak berarti, tetapi karena telah berhasil membuat muridnya melangkah lebih jauh tanpa harus terus menoleh ke belakang. Dan di setiap langkah mereka, biarlah doa-doa kita menjadi angin yang tak terlihat, namun selalu menguatkan.
Meski demikian, secara lahiriah dan ikatan batin yang telah dibentuk, maka para murid akan ingat gurunya lewat do’a-do’a terbaik.
“Yakinlah bahwa ketulusan hati dan keihklasan jiwa akan mewujudkan ikatan bathin yang kuat untuk saling mendo’akan. Murid yang sudah meninggalkan kita akan selalu mendo’akan gurunya”
Catatan ini dipopulerkan oleh Kepala SMKN 1 Sumenep, Sucipto, diperoleh dari kisah Guru yang telah pensiun dan enggan dituliskan identitasnya.